Pria Tajikistan dan Reuni 212

DtZQ4nPUcAEiygB

“Are you Indonesian or Malaysian?” tanyanya pertama kali kami bertemu. “Indonesian”, jawab saya seketika. Sebut saja namanya Abdurrahman, berasal dari Tajikistan. Lima tahunan menetap di Malaysia untuk mengambil undergraduate program manajemen di Asia Pasific University, Kuala Lumpur, sebelum akhirnya bertemu di Turki lewat perantara YTB. Tak heran wajah identik Malaysia-Indonesia dengan mudah ia kenali. Sejak itu kami duduk bersebelahan. Mulai akrab.

“Why Indonesian Muslims are not in unity?”  tanyanya lagi suatu ketika di sela-sela setengah jam istirahat yang diberikan. Saya tanya balik apa yang ia maksud. Ia menjawab, “Adalah fakta bahwa Indonesia negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kekayaan alam juga melimpah luar biasa. Andaikan tokoh-tokohnya bersatu tentu akan menjadi kekuatan besar dunia”. Ia lantas mencontohkan PAS sebagai satu-satunya representasi ummat di negeri jiran, tempat ia belajar sebelumnya. Mengkomparasikan dengan muslim Indonesia yang dalam hal politik praktis memang terafiliasi ke amat banyak partai. Meskipun saya punya kritik tersendiri terhadap contoh yang ia berikan mengingat kondisi sosio-kultural Indonesia yang sedemikian beragam, harapan besarnya cukup bisa dicerna dan membuat saya merenung beberapa saat.

“Tajik is the real descendants of Persian,” terangnya suatu kali. Kemudian ia menerangkan tentang bangsa Persia yang dewasa ini terwarisi oleh negerinya, Afghanistan, dan Iran. Sementara kedua yang lain dalam hal penulisan sudah ter-Arab-kan, Tajikistan menggunakan huruf yang berbeda, mirip dengan Rusia. Penjelasannya yang singkat membuat saya masih tidak terlalu faham tentang statemennya itu. Kapan-kapan harus saya dalami lagi.

“What do you say I love you in Bahasa? gercekten I forgot”, tanyanya mulai mencampur Inggris fasihnya dengan Turkce di saat yang lain. “Aku cinta kamu”, jawab saya. “Man turo dust medoram”, jawabnya kemudian menanggapi pertanyaan serupa saya terhadap bahasa Persia.

Di saat yang lain lagi gantian saya yang bertanya. Bagaimana kondisi ummat Islam di salah satu negara Asia Tengah tersebut. Warna mukanya berubah. Tapi tetap menjawab, “Sebelum berusia 18 tahun, masyarakat dilarang pergi ke masjid”. Saya terkaget. Wawasan mengenai negeri yang baru merdeka setelah runtuhnya Uni Soviet ini memang hampir nol. Praktis anak-anak dan remaja tak bisa beribadah dengan semestinya. Barangkali itu alasannya merantau hingga ke Malaysia. Saya jadi cukup faham, kenapa dia benar-benar concern dengan perkembangan dunia Islam, terutama di Asia Tenggara.

“The very first language that I would like to learn after Turkish is Persian, will you teach me later?”, mohon saya kepadanya. “Absolutely”, jawabnya sambil tersenyum. Persahabatan kami terus berlanjut. Ketika level pertama kelas bahasa Turki selesai dan karena suatu alasan kelas kami dipecah, Alhamdulillah Allah tetap menakdirkan kami duduk di kelas yang sama. Satu-dua-tiga kali kami lanjutkan berbagai obrolan tentang dunia Islam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya perihal Indonesia seakan menuntut ibu pertiwi agar lebih banyak berperan di dunia internasional.

Senin siang tepat tanggal 3 Desember 2018, beberapa saat sebelum kelas dimulai, lagi-lagi kami berdiri bersama dan mengobrol di koridor bersama beberapa teman yang lain. Tiba-tiba seorang teman dari Sudan datang. “Endonezya’da Musluman cok kalabalik ya (Amat penuh ya muslim di Indonesia)”, sapanya mengarah ke saya. Lantas ia tunjukkan foto dari HP-nya tentang acara reuni 212 di Jakarta yang diadakan hari sebelumnya, Ahad. Segera teman-teman yang lain bergerombol melihat gambar tersebut. Termasuk Abdurrahman. Ia lantas memandang saya, dan mengeryipkan matanya. Sambil tersenyum. “Ya, umat muslim di Indonesia sudah bersatu”, batin saya.

(sam_h)

Gecmis Zaman dan Refleksi Bangga ber-Indonesia

Gecmis Zaman

Beberapa pekan lalu, pembelajaran bahasa Turki saya memasuki topik “Gecmis zaman”. Semacam “Past Tense” dalam bahasa Inggris, atau “Fiil Madhi” dalam bahasa Arab. Direct Method alias Thariqah Mubasyirah yang digunakan membawa saya dan teman-teman sekelas memasuki topik menarik seputar sejarah penemuan-penemuan berbagai hal yang bermanfaat bagi umat manusia beserta tokoh-tokoh berpengaruh di dunia. Lidya sebagai bangsa pertama yang menggunakan uang sebagai instrumen bertransaksi, Alexander Graham Bell sebagai penemu telefon, Christoper Colombus yang membuka akses dunia ke benua Eropa, Orhan Pamuk seorang sastrawan Turki peraih anugerah Nobel, serta masih banyak lagi. Materi “Gecmis Zaman” terselip diantara penjelasan-penjelasan tersebut.

Pelajaran semakin menarik ketika Hoca melempar pertanyaan kepada saya dan teman-teman, “Siapa lagi orang penting yang ada di dunia ini?”. “Nabi Muhammad”, jawab seorang teman. Tentu saja. Semua menyetujui. “Donald Trump”, benar juga tetapi seisi kelas kompak beraut wajah kesal. “Mozart”, “Albert Einstein”, “Nikola Tesla”, nama tokoh-tokoh dunia disebut satu demi satu. Salah seorang teman dari Afghanistan setengah berteriak “Recep Tayyip Erdogan, hocam“. Benar juga. Ia salah satu tokoh politik dunia yang disegani dunia saat ini. Dan tanpa pencapaiannya, kami sekelas mungkin tidak akan pernah bertemu dan sama-sama belajar di negeri dua benua ini. “Biz siniftayiz, politik yok, lutfen”, respon hoca kami mengarahkan untuk tidak membawa pembicaraan lebih jauh ke dunia politik. Ia tetap tersenyum.

Pelajaran belum selesai. Justru setelahnya, satu demi satu dari kami diminta untuk menyebutkan tokoh dari masing-masing negara berikut profil pribadi dan kontribusinya bagi umat manusia. “Kofi Annan, mantan sekjen PBB”, seru soerang teman dari Ghana. “Leo Tolstoy, sastrawan”, seru seorang teman wanita dari Kosovo menyebut tokoh Rusia itu. Teman-teman dari Aljazair, Maroko, Mesir, Yaman, dan kebanyakan negara TImur Tengah menyebutkan sejumlah nama ulama yang memang familiar. “Aung San Su Kyi”, jawab seorang teman dari Myanmar yang beretnis Rohingya. Seorang teman, lagi-lagi, asal Afghanistan menjawab ketika gilirannya, “Maulana Jalaluddin al-Balkhi”. Merujuk kepada Jalaluddin Rumi yang memang berasal dari kota Balkh, kini di Afghanistan. Kota teman saya tadi juga berasal. Ketika giliran teman Malaysia tiba, ia berfikir agak lama. Tapi teman-teman, terutama dari Afrika, dengan kompak menyeru “Mahathir, Mahathir Mohammad”. Memang ketika disebut satu demi satu tokoh tersebut umumnya kami sekelas mengangguk-angguk. Seakan berkata, ohiya aku tahu. Sementara dianya yang menyebut, umumnya berbusungdada. Bangga.

Sembari mendengar jawaban-jawaban tersebut, saya berfikir keras. Saya orang Indonesia, banyak tokoh yang saya pernah baca kiprahnya. HOS Cokroaminoto, Sukarno, Hatta, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Hamka, Tan Malaka, Suharto, Sutan Takdir Alisyahbana. Atau yang lebih kekinian, BJ. Habibie, Amin Rais, Susilo Bambang Yudhoyono, Hidayat Nur Wahid, Joko Widodo, Anies Baswedan, Bu Risma. Atau sastrawan seperti Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra. Atau ulama dari periode yang lebih lampau lagi seperti Nuruddin al-Raniry, Hamzah Fansuri, Abdul Somad al-Falimbani, Raja Ali Haji, atau Kyai Soleh Darat. Atau tokoh-tokoh intelektual seperti Mochtar Kusumaatmadja, Widjojo Nitisastro, Kuntowijoyo, M. Rasjidi, Nurcholis Madjid.

Tapi siapakah tokoh Indonesia yang kalau saya sebut namanya, teman-teman sekelas akan juga langsung mengangguk-angguk, ohiya aku tahu. Siapa? Akhirnya giliran saya tiba, dan saya jawab, “Sukarno”. Selain teman saya dari Malaysia yang merespon, “Evet, Sukarno”, tidak ada satupun yang mengangguk, ohiya aku tahu. Bahkan hoca bertanya lagi, “Kim o, siapa beliau?”. “Endonezya’nin ilk cumhurbaskani”. Presiden pertama Indonesia.

Adanya beberapa teman, terutama dari Afrika, yang juga menyebut nama presiden pertama negerinya masing-masing dan tidak banyak disambut anggukan teman sekelas lainnya memberi sedikit bantuan. Selamat dari perasaan teralienasi. Tapi, pikiran justru jadi melayang. Mempertanyakan. Benarkah tidak ada putra bangsa yang namanya harum sampai ke penjuru dunia karena sumbangsihnya untuk peradaban? Apakah Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia ini memang tidak berkontribusi besar dalam percaturan dunia? Bagaimana saya bisa bangga kalau memang tidak ada? Ataukah saya ini yang memang kurang cinta dan kurang faham tentang tanah air sehingga tidak tahu?

Belakangan, saya teringat pidato Sukarno tentang Pancasila sebagai Konsepsi Indonesia untuk dunia. Bisa dicek di youtube hingga kini. Beliau tidak mau disebut sebagai pencipta Pancasila, hanya penggali Pancasila. Beliau amat membanggakan Indonesia karena memberi konsepsi kepada umat manusia. Pancasila diulang-ulang dalam berbagai forum internasional sebagai sebuah ajaran yang dapat pula dipakai oleh bangsa-bangsa lain karena ia adalah dasar universal. Juga konsep berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Ide yang dielu-elukan bangsa-bangsa baru di dunia terutama, lagi-lagi, dari Afrika. Imperialis ketakutan. Tak menyesal saya sebut nama beliau kala itu.

Terlepas dari perdebatan mengenai sejarah kepemimpinan Sukarno yang tidak happy ending. Karena terkesan berseberangan dengan para tokoh seperti Bung Hatta dan para ulama di episode-episode terakhir. Nama dan peran besarnya tetap terukir dalam sejarah. Ia membawa tidak saja Indonesia tetapi juga negara-negara yang baru merdeka dan dari dunia ketiga berdiri sejajar dengan bangsa lain. Menginisiasi gerakan non-blok. Menuliskan berbagai buah karya yang masih bisa digali dan dipelajari hingga saat ini. Mencetuskan Marhaenisme. Menjadi figur yang bisa bangsa Indonesia ceritakan kepada dunia.

Masalahnya, kita seperti kurang bisa memperlakukan tokoh-tokoh bangsa dengan layak. Mari sejenak menengok ke Bangsa Turki. Mereka memandang Mustafa Kemal Ataturk dengan penuh kebanggaan dan, bahkan, berlebihan. Bayangkan, kuburannya dijadikan museum yang luar biasa besar di tempat paling strategis di Ankara. Hari kematiannya diperingati dan bahkan di waktu tertentu pada hari itu lagu kebangsaan diperdengarkan di penjuru negeri dan masyarakat akan secara otomatis berhenti dari aktivitas. Khidmat. Kata-katanya dituliskan di dinding-dinding gedung, buku-buku, jembatan-jembatan, dimanapun. Fotonya ada di semua gedung. Patungnya ada di hampir semua sekolah dan taman vital kota. Banyak yang diam-diam menghujatnya. Tetapi pandangan umum, juga kebijakan negara, “mengkultuskannya”. Hasilnya, figurnya adalah inspirasi untuk bernasionalisme sehingga bersatu. Dan lantas maju.

Saya rasa Indonesia tidak perlu sejauh itu. Yang sewajarnya saja. Bila tidak pribadi Sukarno, sekurang-kurangnya ide dan usaha beliau dilanjutkan. Membawa Indonesia menjadi bangsa yang punya suara di dunia Internasional. Membela bangsa-bangsa terjajah yang ternyata hingga kini masih saja ada. Menyuarakan konsepsi-konsepsi brilian yang bisa menyatukan ratusan bahasa dan suku dalam satu bendera ini ke panggung global. Berkontribusi dalam membangun peradaban. Membuat kita benar-benar bangga ber-Indonesia.

(sam_h)

Kenangan dengan Ustadz Dihya

Saya memang sudah mendengar nama beliau sejak kelas satu intensif di KMI Gontor. Namun begitu, saya baru benar-benar mengenal ketika di kelas enam KMI berkesempatan untuk dididik langsung dalam mata pelajaran yang sesuai dengan kepakaran beliau, Tarikh Hadharah. Kedatangan beliau untuk mengajar adalah di antara momen yang paling ditunggu. Bagaimana tidak, bukan saja performa beliau yang begitu bersemangat dan penuh energi sehingga memberikan efek positif bagi kami sekelas, tetapi juga karena satu dua kali beliau mengeluarkan bahasa-bahasa yang beliau kuasai baik Urdu, Prancis, Jepang, China, dan lainnya. Tentu Arab dan Inggris tak perlu diragukan lagi. Dengannya, lalu lintas dunia seakan tampak nyata di hadapan dan kami diajak untuk mulai berfikir dalam level peradaban. Saya lupa beliau mengajar tiap hari selasa ataukah rabu dan di jam keempat ataukah kelima, tetapi yang jelas tiap kali jadwal beliau tiba, dari jendela kelas di ujung timur gedung Yaqdzoh lantai satu kami memandang ke arah gedung Asia dan berharap sosok berjas abu-abu muda itu berjalan dari arah sana sambil menenteng buku di tangan kanan. Kalau terlihat, beberapa teman korban rasa lelah dan kantuk akan kami bangunkan untuk bersiap, bila tidak kami terpaksa bersedih.
.
Saya makin mengenal beliau ketika pindah ke ISID Siman, yang saat itu resmi berkembang menjadi UNIDA, di tahun kedua setelah lulus KMI. Beliau memang tidak mengajar langsung di kelas perkuliahan, tetapi semua mahasiswa kampus Siman pasti merasakan sentuhan pendidikan beliau. Setiap selesai sholat, sambil menenteng sajadah tipis berwarna putih di pundak beliau berjalan perlahan ke rumah seakan menyengajakan diri untuk menyapa mahasiswa maupun dosen yang lewat. Siapapun yang bertemu beliau pasti akan dengan sendirinya merasa bersalah. Bukan karena apa-apa, tapi karena mereka akan kalah cepat untuk menyalami dan kalah hangat untuk tersenyum, sebagian yang lain karena kesulitan untuk membalas pertanyaan beliau yang tak mungkin diucapkan dengan “bahasa”.
.
Sebagai wakil rektor ketiga yang membawahi urusan hubungan luar negeri, tiap tasyakuran selepas UTS atau UAS beliau juga selalu menyempatkan diri untuk hadir dan berbagi. Beliau tak kenal lelah meninggikan hati mahasiswa UNIDA dan mengajak untuk senantiasa bersyukur. Dua hal yang menurut saya paling sering beliau pesankan ialah untuk terus bergerak dan mengembangkan skill berbahasa.
“The secret of life and the essence of it is movement. I exist as long as I move. When I cease to move I cease to be”, tak bosan beliau ulangi. Saking seringnya, beliau seakan membantah keras prinsip “cogito ergo sum” ala Rene Descartes yang cenderung hanya mendewakan akal dan kerja otak. Petuah yang kalau tidak salah terinspirasi dari sejumlah karya Sir Muhammad Iqbal tersebut memang paling tepat untuk ditujukan kepada anak-anak beliau para pununtut ilmu. Bukankah mahfudzat yang telah kita hafal juga berkata demikian, “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah”. Ya, kita memang ditempa untuk belajar dan belajar. Tapi ilmu yang kita dapatkan dari proses belajar tersebut bukanlah untuk ilmu itu sendiri, science for science. Ilmu tersebut harus dijadikan landasan dalam beramal, bergerak, beribadah.
.
Saya yakin semua murid beliau punya kenangan tersendiri, termasuk saya pribadi. Di antara momen bersama beliau yang amat terkenang ialah ketika mengurus kelanjutan studi selepas KMI. Selain Ustadz Masyhudi Subari, beliau adalah sosok yang memberikan tazkiyah bagi saya untuk mendaftar studi di Madinah. Di sebuah pagi di bulan Ramadhan tahun 2014 itu, beliau bertanya kepada saya, “Kam natijatuka ya ibni?”. Mendengar nilai saya yang tak mencapai sembilan, beliau menambahkan, “Hadza sa’b suwayya, lakin ana u’tika”. Sambil tersenyum, beliau berpesan untuk selalu mengiringi usaha dengan doa. Hasilnya, setelah beberapa saat kemudian yang tidak sebentar pengumuman diterima tiba. Tetapi UNIDA seperti belum saatnya untuk ditinggalkan.
.
Pernah juga ketika semester 4, waktu itu saya sebagai salah satu staf LAZISWAF UNIDA membantu penyelenggaraan acara silaturahmi lembaga filantropi sebuah BUMN yang berlokasi di Wisma Darussalam. Beberapa dosen mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara, termasuk beliau pada salah satu malamnya. Herannya, ketika giliran beliau tiba jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah sembilan. Beliau belum juga tampak sementara jadwal seharusnya untuk memulai ialah pukul delapan. Setelah hampir setengah jam berusaha menghubungi panitia lokal sembari di waktu yang sama mengulur waktu dengan acara yang lain, saya dengan berat hati akhirnya menghubungi beliau langsung. “Akhi, hadza muhim jiddan, limadza la adri”, jawab beliau yang ternyata merasa belum mendapatkan undangan. Setelah saya jelaskan situasinya beliau pun menjawab lagi, “Laisa khataukum, idzan. Thayyib ana albas wa ati”. Lima belas menit kemudian, mobil biru tua beliau datang. Dengan tetap tersenyum, beliau keluar dari mobil lantas menyapa kami, memasuki ruangan, dan berbicara dengan penuh semangat seakan tidak ada masalah apapun.
.
Saya juga tidak lupa kenangan bersama beliau dalam acara Kampung Ramadhan UNIDA. Pada penyelenggaraan pertama kali di pertengahan 2015, setelah mendapat banyak masukan teknis dari Ustadz Khalid Muslih beliau adalah sosok pertama dari jajaran rektorat yang saya datangi dan jelaskan konsep dasar acara baru tersebut. Mendengarnya, saya ingat respon beliau, “Rai’, syai’un jadid”. Lantas beliau memberikan masukan agar benar-benar berhati-hati karena melibatkan masyarakat luas. Tiga kali KRU diselenggarakan, beliau tidak pernah absen menjadi pembicara dengan topik yang sama “Membangun Peradaban Islam”. Saya pribadi dapat kesempatan untuk memoderatori beliau pada KRU kedua sembari menjalani KKN. Setahun berikutnya, selepas pembukaan KRU ketiga 2017 yang diisi oleh Ustadz Hasan Abdullah Sahal, Ustadz Amal Fathullah Zarkasyi, dan Wakil Bupati Ponorogo, Bapak Sudjarno, saya datangi beliau yang duduk di samping Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi. Saya salami keduanya dan beliau berkata dengan “bahasa”, “Alhamdulillah, tiap tahun makin berkembang”. Saya ucap terima kasih kepada beliau atas bantuan selama ini. Beliau lantas mengucapkan, “Saya bertemu dengan paman antum kemarin di Pakistan, siapa namanya?”. Saya jawab, “Om Ozi, Ustadzi”, merujuk kepada paman saya yang bekerja di KBRI Islamabad tersebut. “Ayyuwah, akhi Fahrurrozi, semoga antum juga bisa berkiprah ke luar negeri seperti beliau”, seru beliau. “Amin, biduaikum, ustadzi”, jawab saya.
.
Beliau juga sangat perhatian dengan kegiatan mahasiswa terutama yang diinisiasi oleh Dewan Mahasiswa. Ketika semester 4 dan DEMA menyelenggarakan acara jimbas jamaiy di depan Rusunawa 1, yang satu setengah tahun setelahnya berubah nama menjadi Abu Bakar Dormitory, beliau hadir. Selepas acara beliau menaiki panggung dan berpidato sebagaimana terekam dalam video yang cukup luas tersebar. Beliau berjanji akan berusaha untuk selalu datang bila “ma dumtu fil bait” dan tidak berhalangan. Dan benar, beliau sering datang, bahkan barangkali lebih sering dibanding sebagian mahasiswa itu sendiri.
.
Setahun berikutnya, ketika saya dan teman-teman mendapatkan giliran Ber-DEMA support beliau makin terasa. Dalam acara family gathering yang kami inisiasi, beliau mendapat kesempatan di pekan kedua setelah Ustadz Hamid. Lagi-lagi berbicara tentang peradaban, beliau mengapresiasi acara tersebut dan yakin bahwa Famget akan berkontribusi besar tidak hanya dalam mengembangkan UNIDA, tetapi juga peradaban Islam di kemudian hari. Bahkan, beliau mengusulkan untuk menamainya “Monday Night Lecture”, karena acaranya diadakan setiap senin malam sekaligus mengadaptasi Saturday Lecture oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan tradisi keilmuan semacamnya di pusat-pusat keunggulan dunia mutakhir. Saya juga masih ingat ketika beliau meminta tolong untuk dibantu dalam penyelenggaraan acara reuni angkatan 77, marhalah beliau bersama Ustadz Hamid. Berpusat di UNIDA tepatnya di CIOS, angkatan beliau berisi orang-orang hebat termasuk Mantan Pimred Republika, Ustadz Ikhwanul Kiram Mashuri yang sempat berbagi pengalaman pribadi di perpustakaan CIOS.
.
Juga pengalaman ketika wisuda, beliau dengan kondisi yang seperti itu masih menguatkan diri untuk berdiri hampir setengah jam untuk mengalungkan kalung wisuda. Dan tiga kali saya dipanggil, saya selalu melihat beliau tersenyum sembari saya naik ke panggung. Beberapa hari kemudian, saya berpapasan dengan beliau di masjid dan beliau dengan senyum yang khas berbisik pelan, “Barakallah fikum akhi”.
.
Terakhir kali saya bertemu beliau ialah beberapa hari setelah selesai Program Kaderisasi Ulama Januari lalu. Ketika itu saya bersama Ridho Ramazani bersilaturahmi ke rumah beliau sekaligus memberikan kenang-kenangan wisudawan/ti periode Agustus 2017 lalu. Ustadzah Rashda Diana, istri beliau sekaligus salah satu dosen favorit saya di Fakultas Syariah dan mengajar mata kuliah Tafsir Ahkam, membukakan pintu dan mempersilahkan kami untuk masuk. Ternyata beliau sedang dikunjungi pula oleh Ustadz Syahrudin dan dua putra-putrinya yang amat lucu. Beliaupun menerima pemberian kami dengan sangat riang dan mendoakan kesuksesan. Beliau tampak sangat bugar setelah beberapa waktu sebelumnya kami mendengar kabar beliau di rawat di rumah sakit.
.
Masih banyak lagi sebenarnya kisah-kisah berkesan bersama beliau. Tapi beberapa penggal ilustrasi di atas semoga bisa mewakili keseluruhan dan berkontribusi untuk mengobati kerinduan kita pada beliau.

Pare – Ponorogo, 3 Maret 2018

sam_h

Wajah Peradaban Barat [Resume]

57970_f
Wajah Peradaban Barat [Cover]

IDENTITAS BUKU

Judul Buku                              : Wajah Peradaban Barat; Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal

Penulis                                     : Adian Husaini

Penerbit                                   : Gema Insani Press

Tempat dan Tahun Terbit    : Jakarta, April 2005

Cetakan                                   : Pertama

Peresume                                 : Usamah Abdurrahman

SINOPSIS BUKU

Dewasa ini, Peradaban Barat dapat dikatakan menguasai Dunia. Menurut Al-Attas, peradaban Barat mengandung unsur teologi Kristen, Filsafat Yunani, dan Tradisi Eropa. Namun begitu, seiring berjalannya waktu, nilai-nilai Kristen bergeser menjadi Sekular-Liberal.

BAGIAN 1 : DARI KEBINGUNGAN MENUJU KEMATIAN

BAB 1 : Kebingungan Liberalisme

            Tidak ada satu pun masa sepanjang sejarah yang menghadapai tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh peradaban Barat saat ini karena kecenderungannya untuk mengarah pada kehancuran manusia. Hal ini dikarenakan dihilangkannya nilai-nilai kebenaran dan penerimaan nilai-nilai relatif hingga menimbulkan kekacauan. Sebagai contoh, homoseksualitas yang selama ini dipandang sebagai perilaku tercela mulai diterima bahkan dipraktekkan, tak terkecuali oleh para pemuka agama Kristen. Bahkan, perilaku Sodom-Gomorah tersebut dicari-cari pembenarannya dalam agama. Hal ini juga berlaku pada lesbianisme dan perzinaan. Kesemuanya diterima manakala tidak merugikan orang lain sehingga menjebak masyarakat Barat dan Sekular untuk menerapkan hukum berdasar pada hak individu. Di Indonesia sendiri, pengaruh liberalisme amat terasa. Berlabel “kebebasan berekspresi”, muncullah berbagai kontes yang notabene mengeksploitasi manusia, merebaknya budaya free sex, angka aborsi meningkat, peredaran narkotika, dsb. Nilai moral terkikis disebabkan diimpornya konsep relativitas nilai.

BAB 2 : Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal

            Secara umum terdapat tiga sebab Barat menjadi Sekular-Liberal; (1) Trauma Sejarah, dimana sejak awal sejarah kristen telah terjadi berbagai pertikaian baik antara Konstantinopel dan Roma, Katolik dan Protesta, dan antara berbagai sekte. Setelah institusi kepausan dibentuk dan kuat, dibentuk pula Inquisisi yang amat jahat dan kejam berdalihkan atas Nama Tuhan, dikenal kemudian dengan istilah politisasi agama. (2) Problema Teks Bible, seperti belum jelasnya penulis Perjanjian Lama yang sesungguhnya, Perjanjian Baru-pun menghadapi masalah otentisitas dengan fenomena perbedaan dalam pembahasaan sekaligus maknanya. dan (3) Problema Teologis Kristen, konsep Yesus sulit untuk dijangkau oleh akal. Lantas doktrin-doktrin gereja berseberangan dengan temuan para Ilmuan seperti Galileo, Copernicus, dan Bruno. Ini berbeda dengan islam yang sama sekali tidak bermasalah dalam ketiga hal tersebut.

BAB 3 : Perselingkuhan dengan Zionisme

Zionisme, sebuah gerakan diinisiasi oleh Theodore Herzl yang bervisi mendirikan negara sendiri untuk bangsa Yahudi, berkolaborasi dengan Gerakan Turki Muda menjatuhkan Sultan Hamid II dan menggulung Khilafah Utsmaniyah yang telah bertahan 600 tahun. Setelah itu, tanah Palestina berhasil direbut  melalui imperialisme Inggris.

BAB 4 : The End of History atau The End of The West?

            Setelah Barat mengalahkan rival ideologisnya yaitu monarkhi herediter, fasisme, dan komunisme, dunia sampai pada satu konsensus besar penerapan demokrasi liberal. Pada penerapannya terjadi paradoks dimana “Demokrasi Liberal Progresif”-yang diajukan Lipmann dimana masyarakat dibagi menjadi dua kelas yaitu khusus yang benar-benar “bersuara” dan umum yang cenderung “ikut” -lebih diterapkan. Sebut saja PBB yang beranggotakan seluruh negara dunia, tetapi terdapat Dewan Keamanan, dan sejumlah negara khusus pemegang hak VETO. Lebih jauh, Barat terpecah menjadi dua; Eropa dan Amerika. Anehnya, Amerika Serikat yang menduduki puncak justru mengidentifikasi seorang tua bernama Osama bin Laden sebagai musuh utama.

BAB 5 : Jalan Kematian Sebuah Peradaban

            Secara kasat mata, Peradaban Barat tampak menawarkan perbaikan dengan kemajuan sains dan teknologi, namun sebenarnya yang terjadi adalah kemerosotan luar biasa. Shutt mengungkapkan bahwa setelah Perang Dingin dengan runtuhnya Tembok Berlin 1989, terjadilah krisis ekonomi, runtuhnya kekuasaan sipil negara, meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan, bahkan tak kurang dari 40.000 orang mati per-hari. Hal ini disebabkan oleh melebarnya kesenjangan dimana keuntungan dan kesejahteraan hanya dinikmati oleh mereka yang kaya.

BAGIAN II : CARA MEMANDANG ISLAM

BAB 6 : The Clash of Civilization; Antara Fakta dan Skenario Politik

            Thesis Huntington tentang “Clash of Civilization” tidak sepenuhnya ilmiah, melainkan cenderung mencampuradukkan fakta dan mengarah pada scenario politik untuk melanggengkan kedudukan Amerika. Ia mengemukakan bahwa Islam merupakan pihak yang paling berpotensi menjadi musuh Barat setelah Komunis hancur. Yang menarik, ia bahkan menyebut Malaysia dan Indonesia amat berbahaya bila terus mengalami peningkatan ekonomi karena dapat menjadi alaternatif negara muslim maju. Setahun setelah konsepnya dipublikasikan, krisis ekonomi besar menimpa Asia Tenggara. Sedangkan ketika Nemecit Erbakan mengemukakan “Dialouge of Civilization” di Jakarta dan disambut oleh Anwar Ibrahim dan Habibie pada 1996, justru terjadilah 9/11 pada 2001 yang membuka gerbang perang melawan terorisme dan islam.

BAB 7 : What’s Wrong with Bernard Lewis

            Lewis, seorang Yahudi dan penganut Neo-Orientalist, melalui buku-bukunya memberikan berbagai legitimasi atas berbagai kebijakan Barat. Mendahului Huntington, ia menganggap islam adalah musuh Barat dan membaginya ke dalam tiga kategori; (1) Yang melihat Barat dan Amerika sebagai musuh abadi dan menghalangi dalam menerapkan keimanan dan hukum Tuhan, (2) Yang berpegang pada tradisi dan budaya tetapi mau bergabung dengan Barat membangun dunia, (3) Yang melihat Barat sebagai musuh tetapi mau akomodatif sesaat. Ia pun mengkritik berbagai kebijakan Arab dan Islam, yang lebih memusuhi Amerika daripada Uni Soviet.

BAB 8 : Beberapa Mitologi tentang Islam

            Dengan unsur Yunani yang khas dengan mitologinya, Peradaban Barat menggemari mitos dan menjadikannya alat propaganda dengan melukiskan islam sebagai penyembah berhala, musuh Tuhan yang kejam. Hal ini berlanjut hingga kini dimana tokoh-tokoh legenda seperti Achilles, Hercules, dsb diangkat menjadi film dan berekmbang menjadi Superman, Robin Hood, dsb. Belum lagi mitos seperti Santa Claus dan Suartepit dalam perayaan Natal. Dalam aspek politik, mitos-mitos ini kemudian digunakan untuk merealisasikan berbagai kebijakan, seperti mitos Kejahatan Taliban.

 BAB 9 : Trauma dan Islamofobia

            Meskipun dalam praktek keseharian masyarakat Barat telah disekulerkan, namun pada dasarnya mereka tetaplah “Kristen” yang memiliki trauma terhadap islam yang pernah menaklukkan mereka terutama melalui perang Salib. Trauma inilah yang dieksploitasi untuk melegitimasi kepentingan politik Barat terutama Amerika Serikat, lebih-lebih setelah 9/11. Mitos kekejaman islam diangkat oleh berbagai yayasan seperti The Asia Foundation dengan dana tak terhingga dan segala hal yang berbau islam dianggap teroris dan pantas dimusuhi.

 BAB 10 : Paradoks Wacana “Terorisme” dan “Fundamentalisme”

            Meskipun perang melawan terorisme dan fundamentalisme sudah diumumkan, tetapi definisi yang jelas belumlah muncul, adapun yang ada amatlah bias dan cenderung sepihak dan melegitimasi kebijakan luar negeri AS. Berbagai pihak-melalui berbagai mediadicap sebagai musuh Dunia mulai dari Taliban, MNLF, bahkan Abu BAkar Baasyir, dan diamini oleh pemerintah negeri masing-masing. Tetapi penjahat seperti Ariel Sharon yang membunuh ribuan orang-juga kejahatan AS-sama sekali tidak digubris dan tidak tersentuh hukum internasional.

BAB 11 : Islam-Barat; A Permanent Confrontation

            Jauh sebelum Huntington dan Lewis membawa teori “Clash of Civilization”, para pemikir muslim telah menyinggung tentang interaksi antar Peradaban terutama islam dan Kristen, sebut saja Sayyid Quthb, Al-Maududi, dsb. Bahkan Al-Attas telah memberikan banyak peringatan untuk fenomena ini. Ia meyakini bahwa terdapat perbedaan yang amat mendasar antara keduanya terutama dalam pandangan hidup (worldview) seperti pisah-tidaknya aspek kehidupan dunia dan akhirat. Ia meyakini bahwa konflik antar keduanya akan senantiasa terjadi, ketika Barat-Kristen-kini unggul dengan martabat keilmuan, islam dapat meraihnya dan kemudian disegani tanpa harus mengkompromikan kebenaran aqidah islam.

BAGIAN III : TEMA-TEMA INVASI PEMIKIRAN

Bagian ini terdiri dari empat bab. Tiga diantaranya menjelaskan secara mendetail invasi Barat kepada islam dalam aspek pemikiran yaitu; (1) Sekulerisme, (2) Hermeneutika dan Studi Al-Qur’an, (3) Pluralisme Agama. Selanjutnya bab terakhir menjelaskan pelajaran yang dapat diambil dari kasus konflik islam dengan Kristen di Indonesia. Terdapat tiga alternative solusi yang bisa dikaji untuk mengatasi konflik Islam-Kristen di Indonesia; (1) Tetap berpegang teguh pada konsepsi teologis masing-masing dan menolak sikap munafik terhadap berbagai aturan hukum yang sah di Indonesia. Tetapi bila begitu, konflik sulit berakhir karena umat Kristen telah berkali-kali menolak. (2) Menjadi sekuler dan liberal dengan meninggalkan konsepsi teologisnya masing-masing. Tetapi sangat sulit diterapkan, karena masyarakat sulit untuk dijauhkan dari agama. (3) Bersepakat mencari titik temu di bidang sosial kemasyarakatan tanpa memandang aspek teologis. Jalan inilah yang dahulu ditempuh oleh BPUPKI yang menghasilkan Piagam Jakarta. Opsi ketiga inilah yang mungkin dengan menciptakan konsensus bersama baru seperti UU Kerukunan Ummat Beragama.

Ahad, 13 Agustus 2017

 

 

Korupsi E-KTP, Presumption of Innocence, dan Public Trust

 

Innocent-until-proven-guilty

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia diresahkan dengan terkuaknya kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik (E-KTP). Sejumlah lembaga yang konsen dalam agenda pemberantasan korupsi bahkan mengalamatkannya sebagai kasus terbesar dalam sejarah yang pernah KPK tangani. Tak kurang dari 2,3 triliun kerugian diderita oleh negara dalam sekitar 5,9 triliun anggaran yang disiapkan untuk proyek yang nilainya sangat strategis dalam pembangunan ini. Keresahan tersebut semakin bertambah seiring dengan semakin banyaknya nama-nama tokoh yang disebut oleh pihak berwenang dan disebarkan oleh media massa. DPR, sebagai lembaga dimana sebagian mereka berada, terkena dampak luar biasa.

Namun begitu, ada hal penting yang harus difahami oleh seluruh pihak, yaitu tentang diakuinya asas presumption of innocence (praduga tak bersalah) dalam dunia hukum di tanah air. Asas ini memberikan hak kepada semua orang tanpa terkecuali untuk dianggap berkemungkinan tidak bersalah sebelum benar-benar diputus bersalah oleh hakim melalui pengadilan (inkracht). Hal ini berarti warga negara lainnya berkewajiban untuk mengakui kemungkinan ketidakbersalahan mereka.

Pihak berwenang dan Media massa tak terkecuali harus mengakui asas ini. Wujudnya adalah dengan penuh kehati-hatian dalam memplubikasikan informasi. Bila tidak, public trust kepada lembaga pemerintah, utamanya DPR, akan menurun. Padahal, public trust sangat penting untuk memastikan DPR menjalankan fungsinya.

(sam_h)