Profil Ilmuwan Muslim Masa Kini Menurut Recep Senturk

Prof. Recep Senturk adalah salah satu ilmuwan kontemporer yang beberapa tahun terakhir mewarnai dinamika keilmuan di Turki. Selepas menamatkan studi doktoralnya di University of Columbia dengan disertasi berjudul “Narrative Social Structure; Hadits Transmission Network 610-1505”, beliau berkhidmat di sejumlah pusat intelektual seperti ISAM dan ISAR, serta mengajar di Fatih Sultan Mehmet University. Beliau dipercaya untuk memimpin Ibnu Haldun University sejak pendiriannya pada 2017 hingga awal 2021 ini sembari berfokus mengembangkan lembaga Alliance of Civilization Institute (MEDIT) untuk mengkader ilmuwan-ilmuwan dengan independensi pemikiran (fikri bağımsızlık) yang harapannya dapat berkontribusi mewujudkan peradaban dunia yang terbuka (açık medeniyet).

Banyak sekali ide dan gagasan beliau yang penting untuk diketahui oleh para pemuda Muslim. Pada kesempatan ini, mari menelisik pandangan beliau tentang karakteristik dan unsur-unsur keilmuan yang harus dimiliki oleh ilmuwan Muslim dengan memdedah tulisan singkat beliau berjudul “Günümüzde İslam Alimi Nasıl Yetişir?”. Dilanjutkan dengan refleksi singkat mengenai seberapa sesuai profil tersebut dengan konteks keindonesiaan yang kita butuhkan.

Karakter Ilmuwan Muslim yang Dibutuhkan Ummat

Sebelum memerinci bahasan, setidaknya ada tiga hal yang Prof. Senturk lebih dulu tekankan. Pertama, profil ilmuwan Muslim yang dibutuhkan saat ini lebih tepat merujuk kepada profil para ilmuwan pasca Tanzimat karena pada saat itu Barat telah memberikan pengaruh yang besar terutama di bidang pemikiran. Kedua, yang dimaksud dengan ilmuwan Muslim bukan saja mereka yang belajar di fakultas ilahiyat, tetapi siapa saja yang memandang realitas dengan kacamata Islam apapun latar belakang pendidikan formalnya. Ketiga, setiap ilmuwan Muslim perlu memetakan secara jelas perannya di dalam masyarakat. Di ranah apapun kelak dia berkarir, di sanalah ia dapat berfungsi sebagai penyebar ilmu dan juru dakwah. Meneladani Rosulullah, seorang Alim tentulah ia Muallim. Adapun sejumlah karakteristik yang perlu dimiliki oleh ilmuwan Muslim ialah;

  1. Memiliki pandangan Islami mengenai hakikat alam semesta dan seluruh pemikirannya dibangun di atas pandangan Islami tersebut. Inilah sebenarnya pembeda utama ilmuwan muslim dengan selainnya terutama positivisme yang saat ini amatlah populer.
  2. Menggunakan Ushul al-Fiqh sebagai metode untuk berfikir, berkomentar dan mengambil kesimpulan. Saat ini posisi Ushulul Fiqh tersebut seringkali digantikan dengan metode yang diimpor dari Barat sehingga ilmu yang diproduksi justru tidak Islami. Ushul al-Fiqh bukan sekedar hukum, tetapi metode yang mencakup banyak sekali aspek keilmuan dalam khazanah Islam seperti pemahaman tentang Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, bahkan bahasa Arab.
  3. Mampu menambahkan “batu bata” pada bangunan keilmuan Islam yang orisinil. Pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam bukan artinya menghancurkan yang telah ada dan membangunnya ulang dari nol, melainkan melanjutkan capaian-capaian ulama sebelumnya. Konsep ihya dan tajdid dalam Islam bukan memperbaharui Islam itu sendiri melainkan implementasinya pada realitas kekinian sesuai dengan ahlak dan sunnah yang Rasulullah gariskan.
  4. Memiliki adab. Tanpa adab, ilmu yang seorang ilmuwan miliki justru bisa membawa kepada marabahaya. Kita bahkan diperintahkan untuk mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.
  5. Memandang bahwa aktifitas ilmiahnya adalah ibadah dan bukan sekedar karir di mana pemasukan diperoleh.
  6. Menerapkan ilmu yang telah diketahuinya terlebih dulu bagi dirinya sendiri. Ilmu yang ia miliki haruslah berbuah amal. Tujuan dari pendidikan Islam ialah mencetak insan kamil, manusia Muslim yang ilmunya amaliyah, amalnya ilmiyah.
  7. Memiliki ketakwaan. Tujuan dari aktifitas ilmiah seorang ilmiah hendaknya keridhaan Allah dan bukannya keuntungan duniawi.

Unsur-unsur Keilmuan yang Harus Ilmuwan Muslim Miliki

Selain karakter-karakter sebagaimana yang disebutkan di atas, terdapat pula unsur-unsur keilmuan yang menurut Prof. Senturk harus dimiliki oleh ilmuwan Muslim saat ini. Bahkan, lembaga-lembaga pendidikan sebisa mungkin menyusun kurikulum pembelajarannya untuk memastikan para lulusannya kelak memiliki unsur-unsur keilmuan ini. Di antara unsur-unsur tersebut ialah;

  1. Memiliki kemampuan menulis dan berbicara dengan bahasa Arab klasik dan modern pada level setinggi mungkin.
  2. Mengetahui ilmu-ilmu alat seperti ilmu bahasa dan Balaghah (Sarf, Nahwu, Wad’, Mantik, Adabul Bahs, Badi’, Ma’ani)
  3. Menguasai bahasa-bahasa Barat terutama bahasa Inggris dan mengikuti literatur-literatur penting sesuai dengan bidangnya yang umumnya ditulis dengan bahasa-bahasa tersebut.
  4. Menguasai bahasa Persia dan Turki Utsmani (Osmanlica).
  5. Mengetahui ilmu keislaman dasar di seluruh cabangnya dan memiliki kepakaran di salah satunya.
  6. Memiliki wawasan dasar seputar problematika sosial-humaniora modern dan mempelajarinya dengan pendekatan kritis.
  7. Familiar dengan perdebatan terkini mengenai pendekatan Islami serta fatwa-fatwa dan penerapan fikih terbaru, Fiqhul Waqi’.

Selain itu, para pelajar Muslim perlu memiliki pengalaman berkunjung di negeri-negeri Barat maupun Timur agar dapat mengembangkan bahasa, wawasan dan cara pandang, serta mengambil istifadah dari para ilmuwan di sana. Tradisi rihlah macam ini ialah tradisi para ulama sejak dahulu yang penting untuk dilestarikan juga saat ini. Para ilmuwan muslim yang kamil perlu memiliki cakrawala keilmuan yang luas. Untuk dapat memproduksi ulama-ulama macam ini, diperlukan waktu yang panjang dan juga kesabaran luar biasa. Menurut Prof. Senturk, banyak kegagalan yang kita alami dalam mewujudkan tujuan ini dikarenakan ketidaksabaran. Tanpa menyelesaikan permasalahan ketersediaan ilmuwan muslim yang kamil ini, banyak masalah-masalah peradaban lain yang mustahil dipecahkan.

Catatan Reflektif

Karakteristik serta unsur keilmuan sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Senturk di atas memanglah diilhami oleh situasi dan kondisi yang melingkupi Turki saat ini, namun begitu saya rasa secara umum memiliki relevansi di seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Mengenai karakteristik, saya tidak berkomentar sama sekali karena relatif setuju dengan kesemuanya, lebih-lebih karena beliau menakankan betapa pentingnya pandangan hidup Islami sejak awal. Sedangkan perihal unsur-unsur keilmuan, beliau menekankan agar ilmuwan Muslim dapat menguasai ilmu alat baik dari khazanah Islam maupun dari tradisi intelektual Barat.

Bahasa Arab dan ilmu-ilmu lain dari khazanah Islam penting agar kita dapat menjaga ketersambungan riwayat ilmu dari para ulama di berbagai bidang (termasuk ilmu sains terapan, seperti ilmu kedokteran pada Ibnu Sina dan ilmu teknik pada Al-Jazari) dan tetap menjaga kebenaran. Sementara Bahasa Inggris dan ilmu-ilmu alat lain dari Barat perlu diketahui karena dunia keilmuan dewasa ini memang dipenuhi oleh literatur-literatur Barat. Pandangan Hidup Islam yang didapatkan dari pembacaan atas Al-Qur’an, Al-Hadits, dan karya para ulama dengan bantuan ilmu Ushulul Fiqh digunakan untuk membaca realitas yang sedikit banyak terdapat pada literatur-literatur Barat. Pola seperti ini sedikit banyak sejalan dengan agenda Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Kontemporer) oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas maupun Scientia Sacra oleh Syed Hossein Nasr. Pola ini juga – dalam tahapan tertentu –sejalan dengan agenda Pengilmuan Islam oleh Kuntowijoyo, Integrasi-Interkoneksi Ilmu oleh Amin Abdullah, dan beberapa ide dari intelektual besar Indonesia lainnya.

Di samping itu, ada poin menarik ketika Prof. Senturk juga memasukkan penguasaan bahasa Persia dan Osmanlica dalam daftar. Sepertinya selain karena banyak ulama klasik yang menuliskan karya dengan dua bahasa tersebut, tujuannya juga adalah agar ilmuwan Muslim generasi selanjutnya di daerah Anatolia ini tidak  kehilangan identitasnya sebagai seorang “Turki” yang berakar pada kejayaan Utsmani dan Seljuk di mana dua bahasa ini umum digunakan.

Dalam konteks keindonesiaan, sepertinya kita juga membutuhkan ilmuwan Muslim yang mampu membaca literatur tradisional berbahasa dan berhuruf “kuno” sesuai suku atau daerahnya masing-masing. Dengan begitu, keberislaman akan berkesesuaian dengan identitas lokal yang menguatkan pula identitas nasional. Karya-karya macam ini sebenarnya banyak, hanya saja masih amat sedikit yang mengkajinya hingga kini. Sebagai contoh, dalam ilmu politik dan tata kelola pemerintahan Raja Ali Haji, salah seorang wazir di kesultanan Riau Lingga, telah menuliskan buku berjudul “Muqaddimah fi Intizam Wadzaif al-Muluk” dan “Tsamratul Muhimmah Diyafatan Lil-Umara wal-Kubara li Ahlil-Mahkamah” dengan bahasa Melayu berhuruf Jawi (Arab Pegon). Begitupun Raden Ngabehi Ranggawarsita yang menulis Serat Kalathida dan Serat Centhini dengan bahasa Jawa Kuno dan aksara Jawa (Hanacaraka) gagrak Surakarta di mana selain bernuansa tasawuf, puisi-puisi di dalamnya juga memiliki dimensi ilmu sosiologi dan psikologi. Begitu pula epos La Galigo yang pada dasarnya berbahasa bugis kuno kemudian diterjemahkan menjadi berbahasa bugis umum dengan aksara Lontara oleh Siti Aisyah We Tenriolle yang memberikan banyak sekali bekal falsafah hidup. Di dalam khazanah keilmuan yang lain tentunya sedikit banyak dapat dicari sehingga menguatkan akar keilmuan kita di Indonesia.

Untuk menghasilkan profil seorang ilmuwan Muslim sebagaimana disebut di atas, perlu diakui memanglah sulit. Tapi bukan berarti mustahil. Saya sepakat bahwa kita memerlukan profil semacam itu karena dalam sebuah struktur sosial masyarakat Islam, diperlukan qadhi, qadhil qudhat atau bahkan syeikhul Islam. Kepada pembacaan mereka terhadap masalahlah kebenaran disandarkan, bukan pandangan sebebas-bebasnya orang. Hanya saja bila saat ini profil semacam itu masih sulit untuk ditemukan pada diri seseorang, maka pandangan Yusuf Qaradhawi dalam Ijtihad Kontemporer  sepertinya bijak untuk dipertimbangkan. Beliau katakan bahwa ijtihad saat ini dapat dilakukan dengan jama’i alias kolektif. Barangkali apa yang pada masa lalu disebut sebagai Syeikhul Islam, di masa kita ini dapat berwujud lembaga studi. Di dalamnya seorang ilmuwan dengan satu atau dua unsur keilmuan bertemu dengan ilmuwan lain dengan unsur keilmuan lain pula dan saling bekerjasama memproduksi ilmu pengetahuan yang sesuai dengan pandangan hidup Islami. Ilmu Islami yang diproduksi tersebut harapannya dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan peradaban, baik untuk kita di Indonesia maupun masyarakat dunia. Wallahu A’lam bis-Shawab.

Zafer – Konya, 23 Mei 2021

Tulisan ini telah lebih dulu dirilis pada 23 Mei 2021 di laman Rumeli Education Center dengan tautan sebagai berikut https://rumeliedu.com/2021/05/23/profil-ilmuwan-muslim-masa-kini-menurut-recep-senturk/

Petunjuk

Oleh : Usamah Abdurrahman (Mahasiswa Master Filsafat Islam, Necmettin Erbakan University, Pegiat Rumeli Education Center)

Pernah ketika masih di Gontor dahulu, saya bertanya ke salah seorang ustadz yang juga dosen fakultas Ushuluddin, “Apa makna ayat Yudhillullahu man Yasya wa yahdi man Yasya (Allah menyesatkan mereka yang Ia kehendaki dan memberikan petunjuk kepada mereka yang Ia kehendaki)? Apa pula makna ayat Wa man yudhlilillahu fa ma lahu min had (Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk)?”

Saya kemudian lanjutkan pertanyaan tersebut, “Apakah ini berarti Allah tidak adil karena petunjuk hanya diberikan bagi sebagian orang alias eksklusif? Lantas mereka yang tidak masuk ke dalam bagian ini, apakah mereka tidak terdzalimi karena aksesnya pada petunjuk justru dihalangi?

Ustadz kami tadi menjawab – saya rasa – dengan sangat baik. Katanya, “Sebagai mukmin, di antara hal yang wajib kita imani adalah; adil itu sifat wajib bagi Allah dan dzalim adalah sifat mustahil bagi-Nya.”

Jadi pada dasarnya semua bani Adam tanpa terkecuali dalam episode kehidupannya “pasti” dan “sudah barang tentu” terakses dengan petunnjuk. Yang jadi masalah, bagaimana petunjuk itu dapat benar-benar dirasakan sebagai petunjuk. Ada syarat-syaratnya ternyata. Tidak cuma-cuma.

Di antara syarat yang paling utama adalah, lanjut beliau, “Kesiapan menerima petunjuk”. Dengan apa? Dengan membuka hati. Tidak keras kepala.

Masalahnya lagi, ada orang-orang yang belum apa-apa sudah menutup hatinya. Orang-orang macam ini seringkali terbiasa berada di atas, di kemuncak. Sehingga meremehkan orang lain yang ia pandang berada di dataran yang lebih rendah darinya. Padahal, bisa jadi dari tangan orang-orang yang ia remehkan itu petunjuk Allah bisa ia dapatkan.

Orang-orang yang sejak awal telah menutup dirinya pada akses terhadap petunjuk macam inilah yang Allah tadi maksudkan dalam dua ayat yang tersebutkan di atas. Mereka tidak akan mendapat petunjuk. Mereka tidak mau mendapatkan petunjuk lebih tepatnya. Dan bila tidak dari Allah, dari mana lagi ia bisa dapatkan? Padahal Allah-lah Yang Maha Memberi Petunjuk. Al-Rasyid. Al-Hadi.

Kepada Abu Lahab dan Abu Jahal, juga kepada Ka’ab bin al-Asyraf dan Abdullah bin Ubay, sekiranya simpati perlu kita berikan. Mereka hidup semasa dengan Rasulullah Muhammad, utusan Allah terakhir untuk menyampaikan petunjuk paling utama. Tapi tidak sebagaimana para sahabat yang beriman, mereka bukan sekedar menutup hatinya dan tidak merasakan nikmatnya hidup dalam petunjuk, tetapi juga menjadi musuh Rasulullah. Permusuhan yang mereka lakukan abadi dalam sejarah yang kita baca ulang-ulang hingga kini.

Di dunia modern – bahkan postmodern – ini, hampir semua permasalahan berada di zona abu-abu. Kebenarannya samar. Sulit sekali untuk benar-benar yakin sepenuhnya di manakah kita harus berpijak dan berpihak. Metode verifikasi kebenaran modern yang relatif bisa kita terima seperti koherensi dan korespondensi sudah ditinggalkan. Kebenaran ditentukan oleh sesiapa yang pengikutnya terbanyak. Kepemimpinan yang ditentukan oleh suara terbanyak sebenarnya sedikit banyak terperosok ke lubang yang mirip-mirip. Tapi baiklah, ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu. Yang tidak bisa diperoleh kesemuanya, jangan ditinggalkan kesemuanya.

Tapi dari sekian banyak kepelikan itu, ketidakjelasan kebenaran, di hadapan kita terpampang satu isu yang terlalu kasat mata. Ya, isu Al-Quds ini. Isu antara “Palestina” dengan “Israel” ini. Baca saja “krisis” ini dengan pendekatan disiplin ilmu apapun, bila dalam keberilmuan itu asas “kemanusiaan”, “kejujuran”, “keadilan” tetap dijunjung, tidaklah terlalu sulit untuk menemukan jawaban, “pihak manakah yang benar?”

Tapi memang, ada saja dalam sebuah masa, orang-orang yang menutup hatinya. Baik rakyat jelata yang minim literasi, maupun professor – yang bisa jadi dianggap sebagai “ahli” hankam dan intelijen – yang over ­literasi. Kepada mereka-mereka ini, mari berikan simpati. Doakan agar hatinya bisa ia buka, sehingga Allah berikan kepadanya petunjuk.

Cukup menjadi manusia untuk membela Palestina!

Catatan Akhir Pekan

Konya, Kamis – Jumat, 20 – 21 Mei 2021

Palestina dan Konsistensi Keimanan Kita

Oleh : Usamah Abdurrahman[1]

Ketika ditanya oleh Abu Amr, “Perkataan apa yg tidak perlu ditanyakan lagi kepada selain engkau wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Qul amantu billah tsummastaqim! (Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!)” . Keimanan kepada Allah ibarat jalan dengan tujuan yang pasti. Untuk sampai kesana perlu mengikuti lurusnya jalur itu. Istiqomah. Konsekuen. Komitmen. Konsisten.

Menganggap persoalan Palestina itu “kompleks” lantas “tidak bisa” memahami dan bersikap atasnya, sebenarnya menunjukkan kekacauan cara pandang (worldview intrusion). Masalah ini sumbernya adalah kegagalan dalam mengidentifikasi diri sendiri atau tidak konsisten atasnya.

Bila kita beriman kepada Allah, keberimanan kita tidak hanya mewujud sholat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, serta rukun-rukun Islam lainnya. Tidak pula hanya menjalankan gaya hidup islami; berjilbab bagi wanita, dsb. Lebih dari itu, kita harus berpandangan hidup secara islami, berfikir secara islami. Meminjam istilah gurunda Ustadz Hamid Fahmi Zarkasyi, berislam dari ritual hingga intelektual. Dan ini sebenarnya yang jauh lebih sulit. Kegagalan dalam berintelektualitas secara islami, dalam tataran tertentu, justru dapat menjatuhkan seorang muslim pada jurang kemunafikan.

Pandangan hidup Islam adalah cara pandang yang dibentuk dari berbagai macam konsep yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan kemudian dibahas secara terus menerus dari masa ke masa oleh ulama-ulama yang mu’tabar bahkan hingga saat ini. Pandangan hidup ini bersifat tawhidi; integratif komprehensif. Tidak parsial, dualis dan dikotomis. Bila kita beriman, konsekuensinya adalah kita berkomitmen pada cara pandang Islam ini.

Palestina adalah salah satu topik terpenting yang bahasannya tak terputus, tak lekang oleh waktu. Dengannya, cara pandang sekaligus sikap seorang muslim atasnya seharusnya jelas. Baitul Maqdis yang berada di sana adalah kiblat pertama sekaligus tanah suci ketiga ummat Islam. Ada keutamaan tertentu yang diperoleh bila beribadah di sana. Karenanya, para pahlawan Islam dari masa ke masa selalu berharap di tempat persinggahan Isra’ Mi’raj nabi ini, kaum muslimin bisa beribadah dengan tenang, nyaman, khusyu’. Maka ketika ada pihak yang mengganggu kebebasan beribadah di tempat ini, hanya satu kata baginya; Lawan! Persoalan bagaimana cara, itu dikembalikan kepada ijtihad masing-masing sesuai dengan kadar masing-masing pula. Dapat didiskusikan. Jangan-jangan semua pihak dapat berkontribusi dengan pendekatan tertentu yang dipilih. Tapi yang jelas, sikap kita tak berubah; Lawan!

Isu ini bukan isu agama tetapi isu politik!

Kenapa harus dikotomis begitu? Bukankah dalam realitas kehidupan kita tidak ada satu isu yang berdiri sendiri. Sebuah isu memiliki dimensi di berbagai macam bidang. Khusus di isu Palestina, jangan sekali-kali singkirkan variabel agama, karena itu akan membawa kita pada kebingungan. Apa yang membuat diaspora “Yahudi” dari berbagai penjuru dunia susah payah kembali ke sebuah daerah di timur tengah yang sebenarnya telah berpenghuni itu? Sekedar kesamaan ras? Bisa jadi. Untuk apa Amerika Serikat susah payah merintangi etika politik internasional dengan tetiba mengumumkan Yerussalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan perwakilannya dari Tel Aviv ke sana? Sekedar kepentingan politik di kawasan tersebut? Bisa jadi juga. Tapi bukankah bila ditelisik lebih dalam secara jujur, ada konsepsi seputar “tanah yang dijanjikan” yang terindoktrinasi pula kepada para diaspora “Yahudi” tadi sekaligus sejumlah oknum yang berada di sekitaran White House, sehingga mau menempuh usaha payah dan anti kemapanan – bahkan kemanusiaan – tersebut.

Pendekatan agama terhadap isu ini justru seharusnya dapat mengantarkan kepada kedalaman bahasan hingga sampai kepada isu-isu yang paling fundamental. Hanya dengan menempuhi bahasan sulit tersebut bahasan seputar perdamaian yang sebenarnya dapat dicapai. Syaratnya satu, Kejujuran. Meskipun pada tataran penyelesaian di ujungnya nanti perlu diusahakan dengan pendekatan bidang tertentu yang benar-benar sesuai. Harapannya, tiga agama samawi – yang beranggapan bahwa sebidang tanah di Palestina tersebut sebagai tanah suci – seharusnya tidak hanya bisa hidup tetapi juga bisa beribadah secara berdampingan. Umat beragama perlu menyuarakan kepentingan kemanusiaan yang amat besar ini. Sayangnya, tidak sedikit mereka yang tidak membawa agama pada level worldview-nya itu tadi.

Isu Palestina memang kompleks. Tapi bukan kompleksitas yang tidak bisa difahami. Kejernihan berislam, kemurnian beriman, akan membuat cahaya ilmu hadir ke dalam jiwa dan memampukan kita memandang realitas yang kompleks itu. Syukur-syukur bisa berkontribusi sebagai wujud konsistensi kita pada keimanan. Kata Rasulullah; Man lam yahtam bi amril muslimin, falaisa minna. (Mereka yang tidak memiliki perhatian kepada persoalan kaum muslimin bukan bagian dari kita). Dimana pun saudara kita punya persoalan, kita akan ditanya kelak tentang “apa bentuk perhatianmu?” Apalagi persoalan di Palestina. Jangan sampai di saat itu kita menjawab, “Masalah Palestina terlalu kompleks” atau “Itu masalah politik, saya tidak berurusan dengan kepentingan dunia macam itu”. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang perhatian. Wallahu Al’lam.

Risalah Akhir Pekan

Konya, 15 Mei 2021


[1] Mahasiswa Necmettin Erbakan University, Pegiat Rumeli EduCenter, Turki

Lelaki yang Mengetahui Ketidakterbatasan

tumblr_op0ufiU5Zm1tuobsoo1_400

Banyak film yang saya tonton bertahun terakhir, tapi film “The Man Who Knew Infinity” terasa berbeda. Saya merasa harus menuliskannya segera. Bukan saja untuk mendorong teman-teman untuk menikmatinya, tetapi juga agar kesan-kesan yang saya rasakan dapat terekam sehingga dapat sewaktu-waktu saya cermati lagi untuk menstimulus semangat. Saya usahakan semampunya untuk menghindari unsur-unsur spoiler dalam tulisan ini, tapi bila ada yang tersisa saya mohon maaf sebesarnya.

Film ini bercerita tentang Srinivasa Ramanujan, seorang warga negara India di masa penjajahan Inggris yang secara brilian memecahkan formula partisi yang masih menjadi teka-teki dalam bangun matematika kala itu. Kontribusinya bahkan disebut sejajar dengan temuan-temuan Isaac Newton dan berandil besar dalam ditemukannya teori Black Hole oleh Stephen Hawking sekitar seabad setelahnya. Poin ini mengingatkan saya bahwa ilmu pengetahuan benar-benar menjadi ilmu pengetahuan ketika ia dikembangkan secara terus-menerus, turun-temurun, berkelanjutan dari generasi ke generasi sehingga besar, kokoh, dan megah. Pikiran saya lantas melayang ke Al-Khawarizmi yang sumbangsihnya bahkan barangkali jauh lebih penting, angka “0”. Bisa bayangkan matematika tanpa angka sakral itu? Hanya saja, yang banyak diingat dari ilmuwan di lembaga riset Darul Hikmah pada masa kekhalifahan dinasti Abbasiyyah ini biasanya hanya Al-Jabar, magnum opus-nya, bukan namanya secara personal.

Yang menarik dari film ini juga interaksi Ramanujan dengan Hardy, teman sekaligus pembimbing yang mengundangnya ke daratan Britania. Seperti Einstein yang tak akan mungkin melejit tanpa bantuan dari Eddington, pribadi Ramanujan hanya akan terasing dan karyanya akan terlupakan tanpa peran Hardy. Mirip juga barangkali dengan Malcolm X tanpa Elijah Muhammad, atau bahkan Mawlana Jalaluddin Rumi tanpa Syamsuddin Tabrizi. Ya, setiap orang besar butuh dorongan orang besar lain. Mengutip Yudi Latif di sebuah diskusi mengenang Nurcholis Madjid, setiap orang besar bila ditelusuri rekam jejak intelektualnya akan ditemukan jejaring orang besar pula tempat ia mengambil sumber kebesarannya.

Kritik terhadap pelecehan rasial yang membudaya di Eropa kala itu juga dapat dirasakan dengan baik. Ke-India-an Ramanujan membuatnya kesulitan dalam berbagai hal. Di waktu yang sama, menghambat pengembangan ilmu pengetahuan.

Last but not least, bahkan terpenting mungkin dari yang saya tangkap, pertanyaan besar sepanjang jalannya film tentang sumber inspirasi Ramanujan dalam memperoleh pemecahan berbagai masalah matematikanya adalah “bisikan Tuhan”. Bahkan secara tegas ia katakan di hadapan Hardy yang ateis, “Every equation had no meaning to me unless it expresses the thought of God”. Meskipun ia memeluk Hindu, tetapi dari ide cerita yang “based on true story” ini mengingatkan kembali tentang salah satu klasifikasi ilmu paling penting dalam epistemologi islam sehubungan dengan sumber perolehannya; hudhuri dan hushuli.

Empirisisme yang menggentayangi paradigma pendidikan dan pengajaran modern membuat umumnya kita hanya percaya pada ilmu jenis kedua, hushuli. Yaitu pemerolehan kebenaran melalui observasi, pengamatan, pengujian dengan indera, dsb. Padahal betapa banyak ilmu yang bermanfaat bagi ummat manusia karena kebenarannya yang datang dengan sendirinya, hudhuri. Bagi ummat muslim, ilmu jenis ini dapat dicapai dengan meningkatkan ibadah hingga ke level maksimal, ihsan. Rosulpun bersabda, “Berhati-hatilah pada firasat seorang mu’min, karena ia melihat dengan (diterangi) cahaya Allah”. Maka jangan heran ulama-ulama kita meskipun tinggal di pelosok desa, tetapi pikirannya jauh lebih maju dan bermanfaat dari politisi gedung putih di Amerika sana, melalui ilmu laduni yang Allah anugerahkan pada mereka. Juga, dari sekitan banyak Apel yang jatuh dari pohonnya, kenapa apel yang satu itu yang membuat Isaac Newton terilhami teori gravitasi? Allah memberikan ilham dari arah yang tidak diduga-duga, bahkan kepada yang tidak beragama sekalipun.

 

Di hari yang berhujan salju meskipun tidak lebat

Nisantas Mahallesi, Konya

Senin, 6 Januari 2020

[sam_h]

Pria Tajikistan dan Reuni 212

DtZQ4nPUcAEiygB

“Are you Indonesian or Malaysian?” tanyanya pertama kali kami bertemu. “Indonesian”, jawab saya seketika. Sebut saja namanya Abdurrahman, berasal dari Tajikistan. Lima tahunan menetap di Malaysia untuk mengambil undergraduate program manajemen di Asia Pasific University, Kuala Lumpur, sebelum akhirnya bertemu di Turki lewat perantara YTB. Tak heran wajah identik Malaysia-Indonesia dengan mudah ia kenali. Sejak itu kami duduk bersebelahan. Mulai akrab.

“Why Indonesian Muslims are not in unity?”  tanyanya lagi suatu ketika di sela-sela setengah jam istirahat yang diberikan. Saya tanya balik apa yang ia maksud. Ia menjawab, “Adalah fakta bahwa Indonesia negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kekayaan alam juga melimpah luar biasa. Andaikan tokoh-tokohnya bersatu tentu akan menjadi kekuatan besar dunia”. Ia lantas mencontohkan PAS sebagai satu-satunya representasi ummat di negeri jiran, tempat ia belajar sebelumnya. Mengkomparasikan dengan muslim Indonesia yang dalam hal politik praktis memang terafiliasi ke amat banyak partai. Meskipun saya punya kritik tersendiri terhadap contoh yang ia berikan mengingat kondisi sosio-kultural Indonesia yang sedemikian beragam, harapan besarnya cukup bisa dicerna dan membuat saya merenung beberapa saat.

“Tajik is the real descendants of Persian,” terangnya suatu kali. Kemudian ia menerangkan tentang bangsa Persia yang dewasa ini terwarisi oleh negerinya, Afghanistan, dan Iran. Sementara kedua yang lain dalam hal penulisan sudah ter-Arab-kan, Tajikistan menggunakan huruf yang berbeda, mirip dengan Rusia. Penjelasannya yang singkat membuat saya masih tidak terlalu faham tentang statemennya itu. Kapan-kapan harus saya dalami lagi.

“What do you say I love you in Bahasa? gercekten I forgot”, tanyanya mulai mencampur Inggris fasihnya dengan Turkce di saat yang lain. “Aku cinta kamu”, jawab saya. “Man turo dust medoram”, jawabnya kemudian menanggapi pertanyaan serupa saya terhadap bahasa Persia.

Di saat yang lain lagi gantian saya yang bertanya. Bagaimana kondisi ummat Islam di salah satu negara Asia Tengah tersebut. Warna mukanya berubah. Tapi tetap menjawab, “Sebelum berusia 18 tahun, masyarakat dilarang pergi ke masjid”. Saya terkaget. Wawasan mengenai negeri yang baru merdeka setelah runtuhnya Uni Soviet ini memang hampir nol. Praktis anak-anak dan remaja tak bisa beribadah dengan semestinya. Barangkali itu alasannya merantau hingga ke Malaysia. Saya jadi cukup faham, kenapa dia benar-benar concern dengan perkembangan dunia Islam, terutama di Asia Tenggara.

“The very first language that I would like to learn after Turkish is Persian, will you teach me later?”, mohon saya kepadanya. “Absolutely”, jawabnya sambil tersenyum. Persahabatan kami terus berlanjut. Ketika level pertama kelas bahasa Turki selesai dan karena suatu alasan kelas kami dipecah, Alhamdulillah Allah tetap menakdirkan kami duduk di kelas yang sama. Satu-dua-tiga kali kami lanjutkan berbagai obrolan tentang dunia Islam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya perihal Indonesia seakan menuntut ibu pertiwi agar lebih banyak berperan di dunia internasional.

Senin siang tepat tanggal 3 Desember 2018, beberapa saat sebelum kelas dimulai, lagi-lagi kami berdiri bersama dan mengobrol di koridor bersama beberapa teman yang lain. Tiba-tiba seorang teman dari Sudan datang. “Endonezya’da Musluman cok kalabalik ya (Amat penuh ya muslim di Indonesia)”, sapanya mengarah ke saya. Lantas ia tunjukkan foto dari HP-nya tentang acara reuni 212 di Jakarta yang diadakan hari sebelumnya, Ahad. Segera teman-teman yang lain bergerombol melihat gambar tersebut. Termasuk Abdurrahman. Ia lantas memandang saya, dan mengeryipkan matanya. Sambil tersenyum. “Ya, umat muslim di Indonesia sudah bersatu”, batin saya.

(sam_h)