Korupsi E-KTP, Presumption of Innocence, dan Public Trust

 

Innocent-until-proven-guilty

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia diresahkan dengan terkuaknya kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik (E-KTP). Sejumlah lembaga yang konsen dalam agenda pemberantasan korupsi bahkan mengalamatkannya sebagai kasus terbesar dalam sejarah yang pernah KPK tangani. Tak kurang dari 2,3 triliun kerugian diderita oleh negara dalam sekitar 5,9 triliun anggaran yang disiapkan untuk proyek yang nilainya sangat strategis dalam pembangunan ini. Keresahan tersebut semakin bertambah seiring dengan semakin banyaknya nama-nama tokoh yang disebut oleh pihak berwenang dan disebarkan oleh media massa. DPR, sebagai lembaga dimana sebagian mereka berada, terkena dampak luar biasa.

Namun begitu, ada hal penting yang harus difahami oleh seluruh pihak, yaitu tentang diakuinya asas presumption of innocence (praduga tak bersalah) dalam dunia hukum di tanah air. Asas ini memberikan hak kepada semua orang tanpa terkecuali untuk dianggap berkemungkinan tidak bersalah sebelum benar-benar diputus bersalah oleh hakim melalui pengadilan (inkracht). Hal ini berarti warga negara lainnya berkewajiban untuk mengakui kemungkinan ketidakbersalahan mereka.

Pihak berwenang dan Media massa tak terkecuali harus mengakui asas ini. Wujudnya adalah dengan penuh kehati-hatian dalam memplubikasikan informasi. Bila tidak, public trust kepada lembaga pemerintah, utamanya DPR, akan menurun. Padahal, public trust sangat penting untuk memastikan DPR menjalankan fungsinya.

(sam_h)

Masih Hujan Air (Logikamasa.Komik #2)

16110126_764313667049103_5527128288633290752_n

Logikamasa #2 Masih Hujan Air

Luqman                : Sob.. Ayo Sholat jamaah di masjid!

Ahmad                 : Hujan nih… udzur syar’i… ane sholat disini aja..

Luqman                : Ini masih hujan air loh sob… Di Palestina sama Suriah, yang turun hujan bom…

Ahmad                 : Ayo ke masjid… Tapi tunggu ane ganti baju dulu…

– ( ) –

Ikuti terus episode terbaru Logikamasa.Komik dengan mengikuti IG @usamah.r

(sam_h)

Pemuda Zaman [Puisi]

67400de84fcc39d8c45362f0e8cbbca9

Pemuda itu berdiri di atas sebuah jalan panjang dengan ujung tak kelihatan.

Ia tampak resah seakan amat kesulitan memikirkan yang terbaik dari banyaknya pilihan.

Walau begitu, kutahu tak perlu ada yang dirisaukan.

Bagaimana tidak, ransel yang ia selempangkan berisi banyak perbekalan.

Aku yakin, ia siap menghadapi zaman…

(sam-h)

Relativis Ga Kaffah (Logikamasa.Komik #1)

klm1-relativis-ga-kaffah

Anto                      : Hus… Jangan merasa kepercayaan ente benar sendiri! Ga ada kebenaran yang absolut.

Luqman                : Kalo kebenaran absolut ga ada, kita semua ga usah saling sebar berita dan kabar…

Anto                      : Loh kok gitu.. %$?!$

Luqman                : Karena berita dan kabar relative semua kebenarannya. Dan ente juga jangan sebar keyakinan ente tadi… Kan kebenarannya juga relative…

Anto                      : Eh ?!#!

– ( ) –

Ikuti terus episode terbaru Logikamasa.Komik dengan mengikuti IG @usamah.r

(sam_h)

Menjaga Keutuhan Indonesia

indonesia-map

Indonesia merupakan sebuah negara-bangsa (Nation-State) yang amat unik. Bagaimana tidak, Indonesia lahir sebagai sebuah bangsa terlebih dahulu sebelum menjadi negara. Bangsa Indonesia lahir melalui peristiwa Sumpah Pemuda di tahun 1928. Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir melalui peristiwa proklamasi kemerdekaan di tahun 1945.

Kelahiran Bangsa Indonesia amat penting karena pada saat itu hilanglah sekat-sekat primordial antar berbagai suku yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau yang ada. Suku-suku tersebut kemudian melebur menjadi satu dengan identitas baru bangsa Indonesia berikut bahasa dan tumpah darahnya. Konstruk sosial pun mengikuti. Sistem politik berbentuk kerajaan-kerajaan yang berlaku perlahan berubah menjadi cita-cita bernegara secara modern. Inilah tonggak sejarah yang menentukan arah perjuangan bangsa untuk bersatu melawan penjajahan.

Tahun 1945 tiba, kemerdekaan pun berhasil diraih. Namun tidak seperti sejumlah negara lainnya, kemerdekaan Indonesia diraih dengan tetesan darah yang suci dan bukannya anugerah dari penjajah. NKRI pun berdiri dan resmi menjadi bagian dari tatanan dunia baru. Meskipun begitu, tantangan berbangsa dan bernegara belumlah selesai. Bahkan pada hakikatnya barulah dimulai. Indonesiapun melewati babak demi babak sejarahnya. Tantangan tersebut tidak hanya berupa konfrontasi asing seperti agresi militer 1 dan 2 tetapi juga dari dalam negeri, sebut saja G30S/PKI serta gerakan-gerakan separatisme lainnya. Selama itu, 4 pilar kebangsaan secara umum berhasil menjaga Indonesia dari perpecahan.

Kini, setelah lebih dari 70 tahun kemerdekaan apakah tantangan telah terselesaikan semua? Tentu jawabannya belum, dan akan selalu belum. Karena tantangan adalah keniscayaan dalam setiap kehidupan.

Hasan Wirajuda, Mantan Menteri Luar Negeri RI Kabinet Gotong-royong, pada kuliah umum dalam rangka wisuda sarjana angkatan ke-27 dan pascasarjana angkatan ke-7 Universitas Darussalam Gontor Januari ini menyinggung tentang kemungkinan kegagalan konsep nation-state yang diterapkan di mayoritas negara di dunia. Beliau mencontohkan, Irlandia Utara dan Katalunia telah mengajukan referendum untuk memisahkan diri masing-masing dari United Kingdom dan Spanyol. Apabila kedua negara yang relative lebih “kecil” tersebut bisa dilanda isu perpecahan seperti itu, apalagi Indonesia yang lebih “besar”. Lebih-lebih hari-hari ini kita mengamati fenomena-fenomena mengherankan seperti banyaknya TKA bekerja di dalam negeri di saat masih banyak pribumi yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan, berkibarnya bendera dan lambang negara asing di sejumlah tempat, dsb.

Maka, keutuhan bangsa bukanlah sesuatu yang eksis begitu saja melainkan butuh perjuangan untuk menjaganya.

(sam_h)